Media Partisipatif

Posts tagged “Montong Gamang

Gambar

Desa Montong Gamang Sebagai Desa Inovatif dalam Pelayanan Informasi Publik

mt-gamang

Kamis, 6 Oktober 2016. Kepala Desa Montong Gamang Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah, menerima Penghargaan dari Komisi Informasi Provinsi NTB sebagai Desa Inovatif dalam Pelayanan Informasi Publik.

Penyerahan penghargaan ini diberikan oleh Ketua Komisi Informasi Pusat, Jon Fresly, disaksikan oleh Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu Kementerian Desa RI, Gubernur NTB, Bupati/Wabup se-NTB dan dihadapan 995 Kepala Desa se-NTB, dalam kegiatan Pencanangan Desa Benderang Informasi Publik (DBIP).

Penyerahan penghargaan tersebut dilangsungkan di Ballroom Hotel Lombok Raya, Mataram.

Gubernur NTB, Dr.TGH. M. Zainul Majdi  berpesan kepada seluruh kepala desa untuk membangun komitmen dalam membangun daerah, khususnya menyampaikan informasi pembangunan secara terbuka kepada khalayak umum. Sebagai bentuk komitmen tersebut, seluruh Bupati se-NTB bersama Gubernur menandatangani MOU untuk keterbukaan informasi publik.

Sumber : 

https://www.facebook.com/lensahumaslomboktengah/?hc_ref=PAGES_TIMELINE

https://www.facebook.com/humasntb.id/?hc_ref=PAGES_TIMELINE 

Iklan

Gambar

Kunjungan Wakil Preiden RI Ke Desa Kuta Lombok

IMG_7634

KMBERUGAKDESE-Wakil Presiden RI H. Jusup Kala beserta rombongan tiba di Pulau Lombok Sekitar Pukul 09.00 Wita melalui Bandara Internasional Lombok (BIL). Dari BIL rombongan wakil presiden langsung menuju Kota Mataram dalam rangka pembukaan Muktamar Nasional Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada hari sabtu, 12 desember 2015. Dalam lawatan ini rombongan wapres menyempatkan mengunjungi desa kute, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.

Rombongan yang tiba di Kantor Desa Kute sebagai tempat berlangsungnya acara, tanpa  acara seremonial.

Kunjungan Wapres beserta rombongan di Lombok Tengah dalam rangka peluncuran Sistim Informasi Desa (SID), menggali informasi tentang serapan Dana Desa serta pemanfaatannya dan juga melakukan dialog dengan pemerintahan Desa, Kader Pemberdayaan, Organisasi Masyarakat yang fokus mengawal Perencanaan dan Pembangunan desa, juga warga masyarakat lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Desa Montong Gamang Enggos Sofian Indra, mendapat apresiaisi dari Wapres dengan kemampunya menjelaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) secara rinci. Bahkan wapres juga terbelalak dengan kecilnya gaji Kepala Desa dan Sekretaris Desa Montong Gamang, jika dibandingkan dengan jumlah serapan dana  desa yang sudah mencapai diatas 1, 2 M. dan yang lebih membanggakan, ketika bapak wapres meminta soft copy dari APBDes tersebut yang dijawab secara seponta, semua yang kami paparkan tersebut sudah bisa di akses atau diunduh melalui WEB Desa Montong Gamang secara online.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Desa montong gamang merupakan penerapan dari sebagian kecil amanat UU No. 6 tahun 2014 tentang desa pada pasal 84 Terkait Sisitim Imformasi Desa, dan juga UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Sebelum meninggalkan lokasi acara, wapres berkesempatan menuliskan sebuah pesan sebagai catatan penting untuk desa “ PEMBANGUNAN DESA AGAR DILAKSANAKAN SECARA BERSAMA DENGAN GOTONG ROYONG DAN JUGA DIAWASI AGAR MUTUNYA TERJAMIN UNTUK DINIKMATI OLEH SELURUH MASYARAKAT”


Gambar

Setelah Hearing Sekdes Montong Gamang Berjanji Mundur

hearing

Montong Gamang, 30 April 2015; Sekitar pukul 10.00 Wita perwakilan masyarakat desa Montong Gamang yang peduli dengan pembangunan desanya terlihat memenuhi Aula Kantor Desa untuk melakukan hearing dengan Pemerintahan Desa. Perwakilan kelompok yang hadir saat itu mencerminkan presentatif penduduk desa Montong Gamang, karena terdiri dari perwakilan dusun yang melibatkan berbagai unsur dan elemen masyarakat. Pada acara tersebut hadir juga pihak Kepolisian Sektor Kopang yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Kopang, Babinsa, pemerintah kecamatan dan Pol PP.

Kepala Desa Montong Gamang H.Muhammad Amin Abdullah, Sag membuka dan sekaligus memandu acara tersebut, dan sebelum masuk pada acara diskusi terlebih dahulu kepala desa memaparkan garis besar apa yang menjadi sorotan masyarakat terhadap kebijakan yang telah diambilnya, terutama yang berhubungan langsung dengan kegiatan pembangunan pada tahun 2014 dan APBDes tahun 2015.

Perwakilan Kelompok Peduli Pembangunan Desa Montong Gamang yang dikoordinir  oleh Suratman, Erwin, Agus  dan Sunardi, pada awalnya mempertanyakan APBDes tahun 2015 yang dirasa banyak  penyimpangan dan hanya menguntungkan kelompok tertentu serta terkonsentrasi  pada satu  dusun saja. RAPBDes yang telah terdokumentasi tersebut bukan merupakan program yang dihasilkan secara partisipatif melalui proses musrenbangdes tahun sebelumnya, tetapi hanya berisi keinginan sekelompok kecil dilingkar pemerintahan. Jika dibiarkan, untuk apa  bersusah payah meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya melakukan musyawarah desa bila hasilnya tidak satupun diakomodir dalam perencanaan pembangunan desa, ungkap Sunardi yang juga sebagai ketua Panitia pelaksanaan Musrenbangdes.

Pada saat diskusi sebelumnya pernah terungkap jika BPD sama sekali tidak tahu isi APBDes yang ditanda tanganinya, dengan alasan tidak memiliki waktu untuk membaca apalagi mempelajarinya, karena Sekretaris Desa (Saprudin) memberikan dokumen tersebut pada saat akan diserahkan ke BPMD, dimana  hari itu juga merupakan hari terakhir penyerahan APBDes.

Ini bukan semata-mata kesalahan pihak desa jawab Saprudin, karena pihak kabupaten sendiri tidak pernah konsisten dalam memberikan pengarahan kepada desa dalam penyusunan RAPBDes, sebelumnya  desa dianjurkan untuk menyusun Perencanaan selama 6 bulan dengan alokasi dana sebesar 60-40%, tidak lama berselang desa kembali dianjurkan untuk merubah APBDes dengan jangka waktu 1 tahun dan itu terjadi berulang kali sehingga kami bekerja siang malam untuk menyesuaikan anggaran yang akan  diterima dengan rencana  program kegiatan desa.

Acara sempat ricuh ketika salah satu anggota BPD (H. Edi Kariawan) memberikan tanggapan yang menyulut emosi masyarakat dan cendrung mengarah kepada personal  koordinator kelompok, sehingga beberapa kursi didalam ruangan sempat dibanting oleh peserta  dan sempat juga terlontar kata-kata ketidak percayaan masyarakat terhadap kinerja BPD serta meminta agar BPD segera dibubarkan karena belum paham dengan tugas pokok dan fungsinya. Pada saat kericuhan terjadi petugas keamanan yang berada didalam maupun luar ruang bertindak sigap untuk memberikan pengamanan terhadap peserta Hearing agar tidak terjadi hal-hal diluar keinginan bersama, dan beberapa peserta yang tampak tenang juga ikut memberikan pengamanan dan nasehat kepada kelompoknya.

Adapun pertanyaan yang diajukan oleh kelompok peduli pembangunan desa Montong Gamang kepada Pemerintahan desa adalah sebagai berikut :

  • RAPBDes tahun 2015, menyimpang dari hasil musyawarah masyarakat desa dan sifatnya hanya menguntungkan kelompok tertentu serta terkonsentrasi di satu dusun.
  • Pada tahun 2014 program pemasangan KWH PLN secara gratis hanya terkonsentrasi di satu dusun
  • Rehab Rumah Tidak Layak Huni juga berada di 1 dusun
  • PADes yang berasal dari Prona tidak masuk dalam kas desa tanpa ada pertanggung jawabannya
  • PADes yang berasal dari jual beli tanah tidak sesuai dengan buku registrasi dan banyak angka yang meragukan karena angkanya ditindih/direkayasa.
  • PADes yang berasal dari Pengurusan surat Nikah baik dalam desa maupun keluar desa dalam satu kecamatan, keluar desa antar kecamatan dan keluar desa antar kabupaten tidak sesuai ketentuan.
  • Proses Pemecatan beberapa kadus tanpa mempertimbangkan prikemanusiaan dan keadilan karena dipecat tanpa alasan yang jelas serta tidak sesuai dengan aturan.
  • Proses pengangkatan kadus pengganti tidak sesuai dengan hasil musyawarah.
  • Dan masih banyak lagi persoalan yang mengemuka terkait dengan penggunaan dana desa yang tidak sesuai dengan APBDes tahun 2014.

Pada kesempatan yang sama, Camat Kopang Lalu Setiawan, S.Sos atas permintaan peserta hearing berkesempatan memberikan keterangan dengan gamblang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya. Bahkan dalam forum tersebut juga camat kopang juga menceritakan kronologi proses koordinasi yang dilakukan  kepala desa montong gamang’ Dilain kesempatan kades sering mengatasnamakan camat didalam mengambil keputusan, sehingga kasus maupun kebijakan yang tidak layak banyak dikaitkan dengan camat sehingga menuai kontroversi dari masyarakat desa montong gamang.

Diakhir acara Sekretaris Desa Montong Gamang menyatakan  diri mundur sebagai sekdes terhitung jumat, 1 mei 2015 dan akan segera menyusun surat pengunduran dirinya.

Masyarakat juga meminta agar bendahara Desa segera diganti dan  memberikan kesempatan selama 1 minggu kepada pihak pemerintahan desa untuk segera memperbaiki APBDes dan memperbaiki kinerjanya, apabila dalam jangka waktu yang sudah ditentukan apa yang menjadi tuntutan tersebut belum terealisasi, maka dengan penuh sesal kasus ini akan diajukan keranah hukum.


“BKM SOPOK ANGEN” Desa Montong Gamang

JALAN TERBANGUN , WARGA MISKIN TERSENYUM

“Kami sangat bersyukur dan bahagia sekali, karena apa yang kami idam-idamkan selama ini benar-benar terwujud. Kami tidak perlu memutar jalan lagi kalau harus ke Montong Gamang setelah dibukanya jalan baru ini”.  Begitu ungkapan kebahagiaan yang terlontar dari salah seorang warga miskin di RT Gunung Re Dusun Embung Karung. Warga Sepaung yang memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi terhadap warga RT Gunung Re yang rata-rata miskin tergerak hatinya untuk mengiklaskan sebagian tanah mereka untuk membuka jalan baru agar masyarakar Gunung Re tidak lagi berputar bila menuju Montong Gamang seperti sebelumnya.   RT Gunung Re Dusun Embung Karung yang letaknya di selatan Dusun Montong Gamang yang merupakan Pusat Pemerintahan Desa Montong Gamang berjarak kurang lebih 300 M, namun kerana tidak adanya akses jalan maupun jalan setapak hingga membuat jarak dusun ini terasa cukup jauh yaitu sekitar 1.000 m (1 km) sehingga masyarakat yang rata-rata miskin membutuhkan waktu dan biaya ekstra untuk bisa sampai di Montong Gamang terutama untuk para pelajar (murid SD dan SLTP). Program pembukaan jalan baru ini merupakan salah satu kegiatan masyarakat dibidang lingkungan yang usulannya dari perencanaan yang partisipatif. Akhirnya masyarakat Sepaung dan gunung Re sepakat untuk membentuk KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang diberi nama “Beriuk Mele” yang merupakan struktur paling bawah dari BKM yang keberadaanya ditengah-tengah warga dusun sebagai Perencana sekaligus sebagai pelaksana dari Program pembukaan jalan baru ini. Masyarakat sepaung dan Gunung Re akhirnya membuat proposal kegiatan pentaludan pinggir jalan baru ke BKM Sopok Angen Desa Montong Gamang dan BKM merespon positif dengan keinginan masyarakat Gunung Re untuk membuka jalan baru ini dengan memberikan dana Pentaludan Jalan agar perkerasan jalan yang direncanakan nantinya dengan menggunakan sirtu tidak terkikis air pada waktu musim hujan. Karena jalan ini merupakan jalan penghubung antara 2 dusun yaitu Dusun Montong Gamang dengan Dengan Dusun Mbung Karung. Dengan telah dilaksanakannya kegiatan ini masyarakat Sepaung di Gunung Re mampu membuktikan keswadayaan yang sangat tinggi dengan apa yang telah mereka rencanakan, akhirnya pengerjaan pembukaan jalan baru secara gotong royong dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 1 bulan. Pengerjaan program ini sangat membanggakan karena diamana masyarakat yang tadinya sudah merasa enggan untuk gotong royong ternyata masih memilki kepedulian yang sangat tinggi terhadap masyarakat miskin dimana mereka yang merasa mampu memberikan sumbangan berupa material dan bagi mereka yang kurang memberikan sumbangan tenaga dan para ibu-ibu menyiapkan konsumsi seadanya bagi bapak-bapak yang sedang gotong royong secara gigih demi terwujudnya impian . Jalan sepanjang 750 M dengan lebar 3 M menyerap dana BLM-PNPM Mandiri Perkotaan sebesar Rp. 20.000.000,- dan swadaya Masyarakat sebesar Rp. 30.000.000,- Kami masyarakat sepaung dan Gunung Re sekarang dapat berbangga diri dan sangat merasakan betapa besar manfaat yang kami peroleh setelah terlaksananya pembukaan jalan baru tersebut. Karena dengan adanya jalan ini kami tidak lagi harus memutari dusun  untuk dapat menuju Montong Gamang, sehinga waktu, tenaga dan biaya yang kami keluarkan dapat diminimalisir untuk memutupi kebutuhan lainnya. Dalam tidur lelap membayangkan jalan yang sudah dibangun terbawa dalam mimpi dan keesokan pagi ketika mentari muncul di ufuk timur seorang warga miskin telah bangun dari tidurnya dan tercengang melihat karya nyata dari saudara-saudaranya.