Media Partisipatif

Gambar

SEJARAH EMBUNG BUAL

IMG_1186

Mata air Embung Bual pertama kali dtemukan pada tahun 1813 M oleh seorang perantau yang datang dari Lendang Are bernama H. M. AMIN , kedatangan beliau ke ( Dusun Bual )  yang pada saat itu masih hutan belantara , adalah untuk  bercocok tanam atau lebih dikenal dengan istilah sasak ( Berau ) sehingga penunjang utama untuk keberhasilan perkebunan maupun pertanian tersebut adalah air.

IMG_1185setelah diadakan pencarian sumber mata air dengan merambah dan membabat semak belukar dan pepohonan, setelah beberapa hari lamanya barulah beliau menemukan lokasi mata air yang cukup besar, melihat potensi yang ada akhirnya H M. Amin dan keluarga memutuskan untuk tinggal dan menetap di sebuah Gubuk sederhana beratapkan ilalang yang beliau buat disebelah selatan Mata air embung Bual, dan pada tahun 1814 dijadikan sejarah pertama kalinya Mata Air embung bual dibendung dengan menggunakan kayu, tanah dan bebatuan, hal ini dimaksudkan agar  area persawaha sebagai tempat bercocok tanam dapat diairi walau musim kering tiba. akan tetapi usaha H.M. AMIN Untuk membendung mata air embung bual pada saat itu tidaklah mudah , sebab saat proses pembendungan berlangsung ada sekelompok orang dari Kecamatan batukliang yang dikomandoi oleh Amaq Belek bersenjatakan lengkap datang untuk menghentikan proses pembendungan mata air saat itu ,akan tetapi hal tersebut tidak lantas di indahkan oleh H M Amin karena sebelum terjadinya pertentangan tersebut beliau sudah mempersiapkan pengawalan yang ketat dari pihak keluarga maupun sahabat yang beliau undang dari sumbek, setelah melalui adu argumen yang menegangkan dan adu pisik yang cukup panas ahirnya amaq belek dan pengikutnya kalah dan lari tunggang langgang  meninggalkan senjata dan barang barang bawaan lainnya, melihat hal tersebut H.M. Amin-pun melanjutkan Proses pembendungan Mata Air Embung bual.

Waktu terus berjalan, hari demi hari dilalui  dengan berbagai aktifitas yang dilakukan H M Amin  beserta keluarga untuk menciptakan lokasi disekitar Mata air menjadi lahan sawah  ( Kepuri / Punikan ), sehingga pada suatu hari karena terlalu asyik menikmati pekerjaan, tanpa disadari istri beliau yang pada saat itu hamil tua langsung melahirkan di tempat ia sedang bekerja dan sekaligus anak yang lahir tersebut dinamai dengan Nama PUNIK,  mata air embung bual terus berbenah dan menjadi daya tarik para perantau yang berdatangan dari desa bahkan luar kecamatan  untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan baru. Seiring waktu dengan semakin bertambahnya masyarakat perantau maka jadilah suatu komunitas yang disebut GUBUK  atau lebih dikenal dengan sebutan DUSUN, yang dinamai DUSUN BUAL, perkembangan masyarakat terus berlanjut dan melahirkan kebutuhan sarana dan prasarana yang lain seperti masjid , sekolah dan lain-lain.

Embung Bual mengalami  perubahan dan perluasan, pada tahun 1972 mata air embung bual dibendung untuk kedua kalinya , namun masih menggunakan kayu, batu, dan Pohon aren sebagai dinding bending, barulah pada tahun 1973 setelah lahan embung bual berpindah kepemilikan dari H.M. Amin kepada amak JAKYAH, pemerintah berupaya membendung mata air embung bual untuk ketiga kalinya yang dilakukan secara permanen, semenjak itu dari tahun ketahun embung bual terus mengalami perbaikan yang signifikan sehingga pemerintah memutuskan untuk menukar Areal Hutan embung bual dengan tanah yang terletak di Dusun Talun Ambon.

Sirajh.

Isikan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s